Ketidak
mampuan dan sikap acuh tak acuh untuk memperhatikan menjadikan kekurangan
tragis yang menandai manusia pada masa sekarang. Seni memperhatikan pribadi
lain adalah menolong, dia berkembang dan mewujudkan agar menjadi dirinya
sendiri. Arti memperhatikan tidak dikacaukan dengan hal-hal seperti ingin agar
orang selamat, perasaan suka, menyenangkan atau sekadar menaruh minat terhadap
apa yang terjadi pada orang lain.
Memperhatikan juga bukan suatu perasaan yang tersendiri atau hubungan sesaat, atau hanya memperhatikan pribadi tertentu saja.
Memperhatikan juga bukan suatu perasaan yang tersendiri atau hubungan sesaat, atau hanya memperhatikan pribadi tertentu saja.
Memperhatikan dalam arti menolong pribadi lain berkembang dan memujudkan
diri merupakan suatu proses menjalin relasi dengan seseorang yang mengandaikan
perkembangan, sama halnya seperti persahabatan dapat terbentuk berkat
kepercayaan timbal-balik dan melalui transformasi kualitatif yang semakin
dalam. Apapun perbedaannya menunjukkan pola yang sama yakni menolong yang lain
berkembang. Dengan memperhatikan orang lain, melayani mereka yang diperhatikan,
seorang akan menghayati makna hidupnya. Perasaan kepuasan itu bukan dicapai
dengan menguasai atau menjelaskan, menilai yang lain, melainkan dengan
memperhatikan dan diperhatikan.
Kodrat manusia yang ditandai sikap perhatian begitu nyata dan jelas, namun tak akan terlihat apabila kita tidak betul-betul memperhatikannya dengan sengaja. Sikap memperhatikan dan mencintai, yaitu satu manusia berhubungan dengan orang lain untuk saling meningkatkan perkembangan masing-masing, merupakan kenyataan mutlak dan fakta utama dalam hidup manusia dan tetap menjadi matriks sosial setiap manusia.
Memperhatikan bearti menolong yang lain berkembang, didalamnya kita mengalami hal-hal yang kita perhatikan (manusia, cita-cita dan gagasan). Sekurang-kurangnya menolong orang lain memperhatikan orang diluar dirinya sendiri. Serta mendorong dan membantu untuk menemukan, menciptakan perasaan memperhatikan diri sendiri dan menjadi peka terhadap orang sekitar. Dapat menumbuhkan pemahaman yang mendalam tentang asumsi-asumsi yang dapat dilakukan dan apa yang tidak, yang relevan dan tidak bagi perkembangan selanjutnya. Unsur pokok seni memperhatikan adalah:
Kodrat manusia yang ditandai sikap perhatian begitu nyata dan jelas, namun tak akan terlihat apabila kita tidak betul-betul memperhatikannya dengan sengaja. Sikap memperhatikan dan mencintai, yaitu satu manusia berhubungan dengan orang lain untuk saling meningkatkan perkembangan masing-masing, merupakan kenyataan mutlak dan fakta utama dalam hidup manusia dan tetap menjadi matriks sosial setiap manusia.
Memperhatikan bearti menolong yang lain berkembang, didalamnya kita mengalami hal-hal yang kita perhatikan (manusia, cita-cita dan gagasan). Sekurang-kurangnya menolong orang lain memperhatikan orang diluar dirinya sendiri. Serta mendorong dan membantu untuk menemukan, menciptakan perasaan memperhatikan diri sendiri dan menjadi peka terhadap orang sekitar. Dapat menumbuhkan pemahaman yang mendalam tentang asumsi-asumsi yang dapat dilakukan dan apa yang tidak, yang relevan dan tidak bagi perkembangan selanjutnya. Unsur pokok seni memperhatikan adalah:
1. Mengenal pribadi
Usaha untuk memperhatikan harus memahami dan mengetahui banyak hal tentang orang lain. Kita harus tahu, misalnya, siapa orang itu, apa kekuatan dan keterbatasannya, apa kebutuhannya, kebiasaannya dan apa yang memudahkan perkembangannya. “Lebih baik kita mengetahui banyak hal tentang orang lain dari pada apa yang hanya dapat kita katakan tentangnya”.
2. Irama yang berganti-ganti
Kita dapat memperhatikan berdasarkan kebiasaan. Kita harus dapat belajar dari masa lampau. Seberapa jauh kita telah berhasil?, apakah kita sudah membantu atau tidak?, berhasilkah kita mempertahankan atau mengubah tingkah laku sehingga dapat membantu orang lain dengan lebih baik. Irama yang penting dalam seni memperhatikan yaitu irama saling bergantian antara kerangka yang lebih sempit dan yang lebih luas. Dapat membedakan kencendrungannya, akibat yang dihasilkan untuk jangka panjang dan tendensi-tendensi umum lainnya.
3. Kesabaran
Kesabaran merupakan satu unsur penting dalam usaha memperhatikan. Perkembangan sebuah gagasan penting tidak dapat dipaksakan. Dengan bersikap sabar kita memberi waktu, memungkinkan orang lain menemukan dirinya pada waktunya sendiri. Bersikap sabar bukan bearti pasif membiarkan sesuatu terjadi, tapi merupakan wujud partisipasi dengan memberi orang lain ruang gerak. Mendengarkan orang yang putus asa secara sabar dan hadir bearti kita memberi ruang bagi dia untuk berpikir dan merasa. “Orang yang sabar memperluas ruang hidup orang lain”.
4. Jujur
Kita dalam sikap memperhatikan bukan karena kegunaannya (“kejujuran adalah cara yang terbaik”). Kejujuran itu merupakan bagian integral dalam kegiatan memperhatikan. Sikap jujur merupakan usaha memperhatikan yakni kita harus tulus iklas dalam memperhatikan orang lain. Betul-betul bersikap benar dan tidak ada kesenjangan antara apa yang kita katakan dan apa yang kita rasakan. “Untuk dapat hadir bagi orang lain kita harus terbuka bagi orang lain”. Sikap kepura-puraan akan menghambat jalan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara pribadi yang unik. “Kita tidak memperhatikan penampilan orang lain namun lebih kepada keprihatinan dan kesanggupan untuk melihat dan menanggapi kebutuhan orang lain”.
5. Kepercayaan
Memperhatikan menuntut kepercayaan terhadap orang lain untuk berkembang pada waktu dan dengan caranya sendiri. Dalam memperhatikan seseorang kita percaya kepadanya untuk melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan itu. ”Percaya pada orang lain bearti membiarkan dia untuk berkembang”. Sebagai contoh ayah yang berlebihan memperhatikan dan melindungi, tidak percaya kepada anaknya, slalu meminta anaknya untuk melakukan apa yang ada dalam pemikirannya, maka bearti ia lebih menjawab kebutuhan-kebutuhanya sendiri daripada kebutuhan anaknya.
6. Kerendahan Hati
Dalam usaha memperhatikan, sikap rendah hati tampil dalam berbagai bentuk, mencakup usaha untuk mengatasi keangkuhan, membesar-besarkan kemampuan diri dan meremehkan orang lain. Orang yang memperhatikan akan sungguh-sungguh rendah hati dalam kesediaan dan kerelaanya untuk belajar lebih banyak tentang orang lain, tentang dirinya sendiri dan tentang tuntutan memperhatikan.”Saya tidak merasa hina untuk belajar dari sumber mana saja, termasuk dari kesalahan-kesalahan saya”
7. Harapan
Ada harapan bahwa orang lain akan berkembang berkat perhatian kita.Acuan harapan pada masa depan dalam kegiatan memperhatikan membuat saat sekarang makin bearti, sebab harapan tidak meremehkan saat sekarang sebagai sesuatu yang berada diluarnya, tidak juga sebagai sarana semata-mata. “Harapan sebagai ekspresi saat sekarang yang penuh berbagai kemungkinan, mengerahkan tenaga dan membangkitkan daya kita”.
8. Keberanian
Percaya pada orang lain untuk berkembang dan akan kemampuan kita untuk memperhatikan, membuat kita lebih berani untuk memperhatikan serta berada dan menjelajah wilayah yang tidak dikenal sekalipun.
Manusia menemukan dirinya dengan menemukan tempatnya, dan ia akan menemukan tempatnya dengan menemukan yang lain sesuai yang membutuhkan perhatiannya.
Perhatian dan cinta menjamin kesinambungan antar generasi. Sebab cinta dan perhatian yang dialami tidak hanya akan membalasnya hanya dalam bentuk senyuman yang bahagia dan memuaskan, tetapi juga menjadi acuan dan mata rantai kepada generasi berikutnya untuk mempertahankannya.
Kutipan Milton Mayeroff
Labels:
Catatan Hati
Thanks for reading Seni Memperhatikan. Please share...!

0 Komentar untuk "Seni Memperhatikan"